20 July 2006

Pelabuhan Cinta

..............................
Wanita = wani ditata ( Ida Nurhasanah, Fak. Sastra UI Airlangga )
Perempuan = per-empu-an = tempat bersandar ( Hamka )
Ketika ada wanita disisi kita yg mau dan mudah diatur,hal itu akan menumbuhkan kelelakian kita. Saat ada perempuan yg bisa menjadi tempat berlabuhnya jiwa kita, hal itu akan membuat kita merasa semakin laki-laki. Kelelakian kita memerlukan wanita untuk menjadi semain matang, namun tidak semua wanita bisa membuat kita semakin matang.
Hanya wanita qurrataa 'yunin ( penyejuk pandangan ) saja yg bisa membuat kita menjadi lelaki yg lebih matang iman, akhlak dan amalnya. Karena itu bagi lelaki setelah iman ialah mencarikan rahim yg salikhah sbg tempat untuk janin2nya. Karenanya seusai sholat, lelaki melantunkan do'a " Ya Tuhan kami, anuegrahkanlah kepd kami ,istri-istri kami dan keturunan (kami ) sebagai penyejuk hati dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yg bertakwa." ( Al Furqan 74 )
Lelaki sejati itu selau melibatkan langit untuk mendapatkan rahim salikhah. Ia amat sadar bahwa dirinya terlalu lemah untuk mencari sendiri.
Rahim salikhah milik wanita muthi'ah ( wanita yg taat ) adalah salah satu anugerah langit terindah untuk kita, kaum lelaki.Dari rahim seperti itulah akan lahir anak-anak penyejuk hati. Wanita seperti itulah yg akan menjadi penyeimbang jiwa. Perempuan seperti itulah yg saat jiwa berlabuh, kelelakian kita bertumbuh. Ketika itu kita bisa melepas penat, membuang lelah. Sentuhan sayangnya menjadi kekuatan jiwa. Belaian cintanya memberi energi baru untuk terus berkarya.
Alur kehidupan membuat kita memerlukan wanita sebagaimana mereka juga membutuhkankelelakian kita. Di dalam alur kehidupan itu sekali waktu kita jauh dari sisinya untuk berkarya. Karya itu menjadikan diri kita begitu bermakna baginya dan bagi sesama. Di waktu yg lain kita berada teramat dekat denganya untuk melabuhkan jiwa kita. Di pelabuhan cinta itu jiwa kita bersandar sejenak. Disana , sentuhan sayang perempuan kitadan belaian cinta wanita kita menjadikan jiwa kita kembali seimbang.
itu sebabnya dulu Rasulullah SAW selalu membawa pelabuhan cintanya saat memimpin jihad. Itu pula yg menyebabkan Khalifah Umar ra menetapkan shift jihad tiga bulanan bagi pasukan tempurnya untuk bersandar di pelabuhan cintanya. Disana, jiwa mereka kembali seimbang ,italitas jihad mereka kembali membara. Memang lelaki sejati selalu memerlukan pelabuhan cinta. Ia membtuhkan tempat bersandar bagi jiwanya. dan tempat berlabuh itu ada di dalam rumah kita.
( Dir Pelaks. YDSF edisi 220 )

8 comments:

adek kecil said...

begitu juga wanita, menginginkan lelaki yg lebih matang iman, akhlak dan amalnya sehingga lelaki tersebut bisa menjadi imam bagi dirinya

MnX said...

yayaya..aku wanita kok pakdhe..hehehe

aku usul, tulisan yang ini tolong dirombak lagi ya pakdhe..trus di imel ke aku..buat edisi depan. Coz idenya keren juga nih, dan kalo bisa bahasanya jangen tinggi2 yak?Gimana pakdhe??

oya inget..5000 karakter ^_^
i'm waiting neh...

devie said...

wes ta lah Kang! ndang dilamar trus pesen Modin ko KUA. :D

b. gundul S. Farm said...

lah lek modin dadi manten njut sing dadi modine sopo?

sand said...

modin juga manusia he he he.. medeni lek dudu menungso

miss g said...

aku menulis tentang lelaki, kamu mengupas tentang wanita :D

des said...

waaah bagus banget, perempuan itu memang indah untuk di bicarakan, untuk dipandang, untuk dijadikan pelabuhan cinta,seperti aku, karena aku perempuan :D

Anonymous said...

kenapa wanita???
karena saya wanita kan???